Pernahkah kamu merasa hidupmu “kurang” setelah menonton video TikTok atau vlog YouTube? Orang lain tampak selalu bahagia: jalan-jalan dengan mobil pribadi, makan di tempat mewah, memberi kado pacar dengan harga jutaan, atau staycation di hotel bintang lima.
Sementara kamu mungkin sedang duduk di angkot, memikirkan cicilan, atau menahan keinginan untuk belanja online demi bisa bertahan sampai akhir bulan.
Kamu tidak sendiri. Banyak orang merasakan hal yang sama, dan fenomena ini bukan cuma soal iri hati atau "baper". Ia adalah sesuatu yang nyata, bisa dijelaskan secara ilmiah, dan sedang memengaruhi generasi ini secara diam-diam namun masif.
Ketika Realitas Dibandingkan dengan “Highlight” Orang Lain
Sosiolog menyebut ini sebagai perbandingan sosial. Teori ini pertama kali dijelaskan oleh Leon Festinger pada tahun 1954. Ia menyatakan bahwa manusia punya kecenderungan alami untuk membandingkan diri mereka dengan orang lain, demi menilai harga diri dan posisi sosial.
Masalahnya, yang kita lihat di media sosial bukan realita sepenuhnya, melainkan versi terbaik yang dipoles sedemikian rupa. Bahkan kadang hanya settingan atau hasil editan.
Namun otak kita tetap termakan ilusi itu. Seolah-olah semua orang hidup lebih baik dari kita. Seolah-olah kita yang tertinggal.
Fakta yang Jarang Disadari
Media sosial sekarang menjadi etalase gaya hidup kelas atas. Tanpa disadari, kita jadi terbiasa melihat mobil, barang branded, pacaran romantis, dan liburan eksklusif sebagai hal yang wajar bahkan sebagai "standar".
Inilah yang oleh George Gerbner disebut sebagai efek kultivasi. Ia menjelaskan bahwa tontonan berulang dapat membentuk persepsi jangka panjang tentang dunia. Jika kita terlalu sering melihat kemewahan, kita mulai berpikir bahwa itulah “normal”-nya hidup. Padahal tidak semua orang punya sumber daya yang sama.
Menurut laporan Common Sense Media (2022), "78% remaja merasa tekanan untuk mengikuti gaya hidup yang mereka lihat di media sosial". Ini bukan tekanan kecil. Ini bisa memicu stres, krisis identitas, bahkan utang konsumtif.
Menurut Pew Research Center (2023), "60% konten mewah di TikTok dibuat untuk keperluan endorse atau konten kreator yang tidak mencerminkan kehidupan aslinya"
Banyak kreator sebenarnya berhutang atau hidup di luar kemampuan, hanya demi “konten” (Wawancara dari dokumenter Fake Famous, 2021)
Dari Aspirasi Menjadi Beban
Ada istilah lain yang muncul aspiration gap yaitu jarak antara apa yang kita inginkan (karena melihat orang lain) dan apa yang sebenarnya bisa kita capai secara realistis.
Organisasi OECD dan World Bank telah mencatat bahwa kesenjangan ini memperparah tekanan hidup, khususnya di masyarakat menengah ke bawah. Kita terjebak dalam pola “ingin terlihat mampu” alih-alih “menjadi bahagia”.
Beberapa bahkan terjerat utang hanya untuk bisa tampil “mampu” di layar 6 inci.
Tapi Bukankah Hidup Tidak Harus Selalu Tentang Tampil Mampu?
Ini saatnya kita bertanya kembali:
Apakah kebahagiaan hanya bisa dicapai jika kita punya mobil, liburan, dan pasangan ideal?
Atau apakah mungkin kebahagiaan hadir dari hal-hal kecil: makan siang bareng orang tua, ngobrol dengan sahabat, menyelesaikan target kerja, atau tidur nyenyak di kasur sendiri?
Jawabannya mungkin berbeda untuk tiap orang. Tapi yang jelas: kita perlu menyadari bahwa hidup itu bukan kompetisi pamer, tapi perjalanan menemukan makna.
Menjadi Penonton yang Sadar dan Sehat
Agar kita tidak terjebak dalam ilusi digital, berikut beberapa langkah sederhana yang bisa membantu:
- Ingat bahwa media sosial bukanlah cermin realitas.
Kita tidak tahu utang, kesepian, atau beban hidup di balik video “sempurna”. - Kurasi siapa yang kita ikuti.
Pilih kreator yang jujur, membumi, dan membagikan konten yang memanusiakan hidup — bukan hanya memamerkan. - Buat batas waktu menonton.
Terlalu lama scroll bisa mengikis rasa syukur. - Rayakan pencapaian dan keseharianmu.
Kamu tidak perlu validasi digital untuk hidup yang bermakna.
Penutup: Kita Tidak Harus Sama
Setiap orang berjalan di jalan yang berbeda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Ada yang lahir di jalan tol, ada yang harus mendaki bukit. Dan itu semua valid.
Jangan biarkan algoritma menentukan bagaimana kamu harus hidup. Mari kita gaungkan #RealitaItuCukup #BahagiaTanpaFlexing #HidupTanpaBanding
Referensi:
- Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations.
- Gerbner, G., & Gross, L. (1976). Living with Television. Journal of Communication.
- OECD (2019). Under Pressure: The Squeezed Middle Class.
- Common Sense Media (2022). Social Media, Social Life: Teens Reveal Their Experiences.
- Pew Research Center (2023). Teens, Social Media, and Technology.
- Dokumenter: Fake Famous (HBO, 2021).