Penulis memiliki keresahan yaitu ketika menonton video di sosial media kebanyakan vlog itu dari orang-orang yang kelas ekonomi tinggi misalkan vlog di mobil, atau kado pacar, atau bareng pacar jalan-jalan pake mobil.
Yang itu disayangkan membuat standar hidup kelas ekonomi dibawah menjadi ikut-ikutan tinggi padahal secara realistis tidak mampu, karena pengaruh tontonan. Bagaimana menurut ilmu pengetahuan mengenai fenomena itu?
1. Social Comparison Theory (Teori Perbandingan Sosial) – Leon Festinger
Teori ini menyatakan bahwa manusia cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai nilai atau status diri sendiri. Media sosial, termasuk TikTok, Instagram, dan YouTube, memperkuat kebiasaan ini karena:
- Yang ditampilkan adalah highlight kehidupan orang lain, bukan realitas sehari-hari.
- Orang yang menonton merasa hidupnya “kurang” karena standar yang terbentuk adalah standar konsumerisme kelas atas.
Akibatnya: muncul rasa rendah diri, iri hati, atau tekanan untuk ikut-ikutan demi tidak merasa “tertinggal”.
2. The Aspiration Gap (Kesenjangan Aspirasi)
Ini terjadi ketika aspirasi (harapan) masyarakat naik karena pengaruh tontonan, tanpa ada peningkatan nyata dalam kemampuan ekonomi.
- Remaja atau masyarakat kelas menengah-bawah jadi terdorong untuk meniru gaya hidup kelas atas, seperti membeli mobil, barang mahal, atau memberikan hadiah mewah.
- Seringkali mereka berhutang atau memaksakan diri, yang dapat berujung pada stres finansial atau kemiskinan struktural.
3. Cultivation Theory (Teori Kultivasi) – George Gerbner
Teori ini menjelaskan bahwa media membentuk persepsi realitas jangka panjang. Jika seseorang terus-menerus menonton vlog tentang kehidupan glamor, otaknya akan mulai menganggap bahwa itulah “normal”-nya hidup.
- Ini adalah efek jangka panjang: membentuk cara pandang terhadap nilai hidup, kebahagiaan, bahkan identitas diri.
- Orang jadi tidak menghargai keseharian yang sederhana atau pencapaian kecil.
4. Materialisme & Consumerism
Media sosial sangat mendukung budaya materialistik. Dalam budaya ini:
- Nilai seseorang diukur dari apa yang mereka punya, bukan siapa mereka.
- Hadiah, mobil, pacaran di tempat mahal dianggap sebagai “standar kebahagiaan”.
Ini bertentangan dengan nilai-nilai kesederhanaan atau kebahagiaan berbasis relasi dan makna.
5. Filter Bubble dan Algoritma
Platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan lainnya memiliki algoritma yang memperkuat konten serupa, jadi kalau kamu menonton satu vlog mewah, platform akan menyarankan konten serupa terus-menerus. Ini mempersempit pandangan, seolah-olah semua orang hidup seperti itu.
Apakah Ada Dampaknya?
Ya, dan dampak buruknya cukup serius, seperti:
- Tekanan sosial untuk tampil “mampu” di media.
- Gangguan kesehatan mental: anxiety, depresi, rasa tidak berharga.
- Perilaku konsumtif yang tidak rasional.
- Pola pacaran atau gaya hidup yang tidak sesuai kemampuan finansial.
- Distorsi nilai hidup dan kebahagiaan.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Beberapa pendekatan untuk mengatasinya adalah sebagai berikut:
- Media Literacy (Literasi Media)
Memperdalam edukasi tentang bagaimana media bekerja dan bagaimana memilah konten yang sehat untuk mental. - Critical Consumption
Belajar menjadi konsumen media yang kritis menyadari bahwa banyak konten adalah “panggung”, bukan realita. - Mempromosikan Konten Alternatif
Konten tentang kesederhanaan, produktivitas, kehidupan biasa yang bermakna perlu lebih banyak diproduksi dan disebarkan. - Kesadaran Diri dan Pengendalian Diri Sosial
Mengenali trigger dalam diri dan menjaga jarak dari konten yang memberi tekanan sosial.